2022
no image

Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk menilai dan memahami kebutuhan orang lain, dan bertindak sesuai cara mereka mengatur interaksi dengan seseorang. Beberapa hal yang termasuk kecerdasan interpersonal, meliputi menjalin hubungan baru dengan orang lain, menjalin kerjasama dengan orang lain, kemampuan untuk menginterpretasikan perasaan orang lain melalui bahasa tubuhnya, kecakapan komunikasi, dan empati.

Memang, tidak semua anak membutuhkan pertolongan Anda dalam meningkatkan kecerdasan interpersonal dan juga keterampilan sosial untuk bersosialisasi dengan orang lain. Namun, hal ini sangat penting untuk membuatnya bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungannya.


Kecerdasan Anak Dapat Dipengaruhi Orang Tua

Kecerdasan atau yang sering dikenal IQ (Intelligence Quotient) mengacu pada fungsi intelektual seseorang. Genetika memainkan peran besar untuk memengaruhi tingkat kecerdasan seseorang. Selain genetika, nutrisi yang baik, perlindungan dari racun, dan banyaknya waktu bermain serta olahraga ternyata dapat memelihara kecerdasan anak.

Sebenarnya, tingkat kecerdasan sang anak dapat dipengaruhi oleh kebiasaan sang ibu semasa kehamilannya. Sebuah penelitian menunjukkan, bahwa anak-anak yang dilahirkan dari seorang ibu yang sering berolahraga selama masa kehamilan, ternyata memiliki tingkat kecerdasan dan kemampuan bahasa lebih tinggi saat usia 5 tahun dibanding dengan anak yang lahir dari ibu yang tidak sering melakukan olahraga selama kehamilannya.

Hal tersebut ternyata dipengaruhi oleh tingkat hormon kortisol yang cukup. Kortisol adalah hormon stres yang dikeluarkan pada saat Anda berolahraga. Hormon ini rupanya dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan otak bayi Anda, dan juga organ lainnya.

Sebelum lahir hingga berusia 4 tahun, otak anak tumbuh secara pesat. Otak muda terus mengatur dan berkembang sepanjang masa. Awal mula sang anak dapat menjalin hubungan sosial adalah dengan merasa dekat pada orang tua dan/atau pengasuhnya. Anak yang dekat dengan orang tua misalnya, dapat membuat otaknya berkembang. Hal itu dikarenakan sel saraf terhubung melalui koneksi sosial dan bahasa.

Otak dirancang untuk mencari keamanan, dan jika otak tidak merasa aman, maka otak tidak dapat belajar. Orang tua harus memastikan bahwa keadaan sang anak tersebut aman, karena jika anak tidak merasa aman, maka hal itu dapat berdampak pada kemampuan mereka untuk belajar.

Kecerdasan interpersonal atau kecerdasan sosial melibatkan pemahaman situasi sosial, hubungan antar manusia, dan mengetahui hal apa yang harus dilakukan oleh anak dalam situasi tertentu. Kecerdasan interpersonal cenderung kurang diperhatikan, namun kecerdasan ini kerap menjadi faktor penentu kesuksesan anak di masa depan. Dengan kecerdasan interpersonal, anak Anda bisa memimpin sebuah kelompok kecil atau juga membuatnya bisa bersosialisasi dengan baik di lingkungannya.

Begini Cara Mengajarkan Anak untuk Bersosialisasi

Secara umum, anak-anak akan mengembangkan kemampuan atau keterampilan sosial tertentu pada usia seperti di bawah ini:

  • Anak berusia 2 hingga 3 tahun dapat meminta perhatian dari orang lain, serta melakukan kontak sosial dengan orang lain secara verbal, seperti mengatakan ‘Hai’ atau ‘Sampai Jumpa’.
  • Anak berusia 3 hingga 4 tahun, bisa bergiliran saat bermain game, berimajinasi dengan boneka, dan memulai komunikasi verbal dengan kata-kata yang sebenarnya.
  • Anak berusia 4 hingga 5 tahun dapat berempati dengan temannya, seperti mengatakan ‘Saya Minta Maaf’, ‘Tolong’, atau pun ‘Terima kasih’.
  • Anak berusia 6 hingga 7 tahun dapat berempati dengan orang lain, seperti menangis karena hal-hal yang menyedihkan. Pada usia ini, anak cenderung dapat berbagi serta menggunakan postur tubuh dan isyarat. Tetapi ia belum dapat memahami perbedaan yang jelas antara benar dan salah.

Sebagai orangtua, Anda perlu mengajarkan Si Kecil agar dapat bersosialisasi dengan orang lain. Beberapa hal ini dapat Anda ajarkan pada buah hati Anda, di antaranya:

  • Biasakan untuk makan bersama
    Saat makan bersama, Anda bisa melakukan interaksi dengannya. Hal itu dapat mengajarkannya bagaimana berkomunikasi dengan orang lain, bagaimana cara mendengarkan apa yang orang lain katakan, serta bagaimana menanggapi obrolan orang lain.
  • Mengajarkan dan mengenalkannya bahasa tubuh
    Misalnya saat sang anak tengah menonton TV, Anda bisa mengurangi volume suara sedikit dan menanyakan sejenak apa yang dirasakan tokoh kartun di TV yang ia tonton. Anda juga dapat menanyakan padanya tentang karakter tokoh animasi yang ia sukai. Hal ini dapat melatih kemampuan Anak untuk menangkap perasaan orang lain lewat gerakan tubuh.
  • Ajarkan agar sang anak menjadi lebih vokal (berani bersuara)
    Biarkan sang anak berbicara untuk dirinya sendiri. Anak Anda membutuhkan kesempatan untuk menunjukkan keterampilan sosialnya, jadi jangan selalu berusaha untuk menjadi juru bicaranya. Jika sang anak merasa gugup saat berbicara dengan orang lain, maka siapkan langkah-langkah kecil untuk membangun kepercayaan dirinya. Misalnya dengan memintanya untuk mengatakan ‘Permisi’ kepada petugas toko mainan, dan biarkan ia bertanya langsung pada petugas tentang mainan yang ia inginkan.

Kecerdasan interpersonal memiliki beberapa kunci elemen penting, meliputi kefasihan bahasa verbal dan keterampilan dalam percakapan; pengetahuan tentang peran sosial dan aturan; keterampilan mendengarkan secara efektif; memahami apa yang membuat orang lain tertarik; keefektifan sosial atau bagaimana cara agar percaya diri secara sosial dan efektif di dalam lingkungan; dan mawas diri.

Ajarkan sang anak untuk percaya diri dan tidak takut pada lingkungannya. Hal itu dapat meningkatkan kecerdasan interpersonalnya. Biarkan dirinya menyelesaikan masalahnya sendiri, jangan terlalu sering membantunya. Namun, selalu arahkan dan amati sang anak saat bersosialisasi dengan teman-teman dan lingkungannya.

 

no image

Jika Buah Hati Anda menderita dermatitis atopik atau eksim atopik, Bunda dan Ayah bisa melakukan berbagai cara berikut ini guna meringankan atau mengobati gejala yang dideritanya.

Eksim atopik memang lebih sering diderita oleh anak-anak, terlebih ketika usia mereka baru menginjak satu tahun. Akan tetapi kondisi ini juga bisa menyerang anak-anak yang lebih tua, remaja, hingga orang dewasa. Kondisi ini ditandai dengan kulit yang kering, gatal, pecah-pecah, kemerahan, dan bersisik. Lokasinya bisa di mana saja, seperti di wajah, tangan, lipat siku, lipat lutut, atau kulit kepala.


Hingga saat ini belum diketahui apa penyebab pasti penyakit ini, namun faktor keturunan atau genetik, serta lingkungan yang dingin dan kering, diduga menjadi faktor risiko munculnya eksim atopik. Meskipun penyakit ini tidak menular, penting bagi penderita untuk melakukan perawatan kulit guna menanggulangi kerusakan pada kulit sebagai dampak dari eksim atopik yang terjadi selama menahun (kronis).

Perawatan Eksim Atopik yang Bisa Anda Lakukan di Rumah

Eksim atopik bisa menghilang seiring dengan bertambahnya usia Si Kecil, namun bisa juga kambuh sewaktu-waktu. Untuk mengurangi gejala berupa gatal dan perih yang dialami oleh Buah Hati, Anda dapat melakukan beberapa langkah berikut ini:

  • Mandikan bayi dengan air bersih bersuhu sekitar 36 derajat Celcius, usahakan menggunakan suhu air hangat. Mandikan Si Kecil selama sekitar 10 – 15 menit.
  • Pilih sabun tanpa pewarna, tanpa pewangi, dan berbahan non-alkaline. Bilas sabun hingga benar-benar bersih sepenuhnya.
  • Rajin mengoleskan pelembab ke kulit Si Kecil setidaknya dua kali sehari setelah mandi. Pelembap ini berguna membantu memperbaiki kulitnya yang kering dan rusak. Pilih pelembap yang cocok dengan kulit Si Kecil atau diskusikan terlebih dahulu dengan dokter. Jangan pilih pelembap yang mengandung pewangi karena dapat membuat gejala eksimnya kambuh.
  • Minta Si Kecil untuk tidak menggaruk kulit. Jika dirasa sulit, tutup saja area kulit yang gatal atau minta ia mengenakan sarung tangan pada malam hari.
  • Potong kuku Si Kecil agar kulitnya tidak tergores atau luka ketika tergaruk.
  • Pilih pakaian yang bertekstur halus dan dingin di kulit untuk mengurangi iritasi. Jangan pilih pakaian yang terasa kasar, gatal, dan ketat.
  • Kompres kulit Si Kecil dengan kain basah dan sejuk untuk mengurangi rasa gatal.
  • Hindari aktivitas yang membuat Si Kecil kepanasan dan banyak berkeringat.
  • Jauhkan Si Kecil dari segala hal yang membuat rasa gatalnya muncul, misalnya debu, makanan tertentu, debu, atau bulu hewan peliharaan.
  • Minta Si Kecil untuk banyak minum air putih agar kulitnya menjadi lembap.
  • Jaga kelembapan dan suhu ruangan agar nyaman bagi Si Kecil. Sebisa mungkin hindari udara yang kotor, kering, dan suhu yang terlalu dingin, agar tidak memperberat keluhannya.

Merawat kulit anak dengan eksim atopik adalah bagian penting dari langkah penanganan penyakitnya, namun kondisi ini juga perlu mendapatkan pengobatan dari dokter. Untuk meringankan gejala, dokter dapat memberikan beberapa jenis obat. Misalnya kortikosteroid untuk mengurangi peradangan pada kulit, atau antibiotik jika terdapat tanda-tanda infeksi.

Segera periksakan Si Kecil ke dokter, jika gejala eksim yang dialaminya bertambah parah, atau jika terdapat tanda-tanda infeksi seperti demam, atau kulit melepuh berisi cairan dan nanah. Meskipun kadang dapat sembuh dengan sendirinya, mempraktikkan cara-cara di atas dan menuruti saran dokter, dapat meringankan gejala eksim atopik yang dialami Si Kecil dan menurunkan risiko terjadinya kerusakan lebih lanjut pada kulit lembutnya.

 

no image

Alergi makanan merupakan hal yang cukup sering dialami oleh anak-anak, terlebih jika terdapat riwayat alergi di keluarganya. Bila Si Kecil menunjukkan gejala seperti gatal, bibir bengkak, dan sakit perut setelah mengonsumsi makanan atau minuman tertentu, bisa jadi itu adalah gejala alergi. Susu bisa menjadi salah satu penyebab alergi pada anak.

Susu merupakan salah satu sumber pelengkap gizi Si Kecil. Namun, Si Kecil belum tentu cocok dengan susu sapi biasa. Hal ini bisa diketahui bila anak menunjukkan gejala alergi setelah minum susu.


Gejala Alergi Susu

Alergi susu adalah kondisi di mana daya tahan tubuh (antibodi) yang seharusnya menyerang infeksi yang masuk ke tubuh, malah menyerang protein pada susu. Hal ini terjadi karena antibodi menganggap protein susu dapat membahayakan tubuh, sehingga bereaksi untuk melawannya.

Protein susu terdiri dari kasein dan whey. Si Kecil dapat mengalami alergi terhadap salah satu protein atau bahkan keduanya. Tetapi, jenis protein susu yang paling sering menyebabkan alergi adalah protein beta-kasein A1 (protein A1).

Reaksi alergi susu akan menyebabkan pelepasan histamin yang dapat menimbulkan gejala berupa:

  • Ruam merah atau gatal-gatal pada kulit.
  • Mata gatal, berair, dan bengkak.
  • Hidung berair.
  • Bengkak di bibir atau lidah.
  • Sakit perut.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Tenggorokan terasa gatal.
  • Batuk.
  • Mengi.
  • Sesak napas.
  • Bengkak di bibir atau lidah.

Reaksi alergi susu pada setiap anak dapat berbeda-beda, namun yang paling harus diwaspadai adalah reaksi alergi parah yang disebut anafilaksis (syok anafilaktik).  Syok anafilaktik dimulai dari gejala yang ringan lalu semakin parah. Si Kecil yang mengalami syok anafilaktik akan merasa sesak napas, lemas, bahkan sampai pingsan. Jika tidak segera ditangani, syok anafilaktik dapat mengancam nyawa.

Jika Si Kecil menunjukkan gejala alergi setelah minum susu, hentikan pemberian susu dan segera periksakan ke dokter anak.

Susu yang Tepat untuk Si Kecil dengan Alergi

Sampai saat ini, belum ada pengobatan untuk mengatasi alergi susu. Namun, gejala alergi dapat dicegah dengan menghindari makanan atau minuman yang mengandung susu. Ini termasuk yoghurt, mentega, keju, dan es krim. Hindari pula produk susu yang berasal dari hewan lain, misalnya susu kambing atau susu domba. Protein dalam susu tersebut mirip dengan protein susu sapi.

Bila Si Kecil alergi terhadap susu sapi, atau lebih tepatnya alergi terhadap protein A1 dalam susu, bukan berarti ia tidak bisa minum susu sama sekali. Bunda dapat memberikan Si Kecil susu nabati, seperti susu kedelai, susu almond, susu hazelnut, dan susu kacang mete. Susu nabati lebih nyaman dikonsumsi oleh orang dengan intoleransi laktosa atau alergi susu, karena bebas laktosa, bebas kolesterol, dan rendah kalori. Berikan Si Kecil susu nabati yang telah difortifikasi (ditambahkan zat gizi lain), agar kebutuhan nutrisinya tetap tepenuhi.

Alternatif lainnya adalah memberikan susu formula hipoalergenik. Susu hipoalergenik terbilang aman bagi penderita alergi susu, karena diproduksi menggunakan enzim untuk memecah protein susu, sehingga tidak memicu reaksi alergi.

Selain itu, saat ini sudah tersedia susu dari sapi A2 yang diformulasikan khusus untuk anak yang memiliki ketidakcocokan dengan susu sapi biasa. Susu A2 berasal dari sapi khusus yang memproduksi susu dengan kandungan protein yang lebih jarang menimbulkan reaksi alergi.

Beberapa studi menujukkan bahwa susu dari sapi A2 terbukti lebih nyaman dicerna dan lebih kecil risikonya untuk memicu alergi, terutama yang berkaitan dengan masalah pencernaan. Gangguan pencernaan berupa perut kembung, sakit perut, tekstur feses lembek, dan frekuensi buang air besar yang sering, dapat reda setelah mengonsumsi susu dari sapi A2.

Sebagian kecil anak dengan alergi susu masih mengalami masalah pencernaan atau gejala alergi, meskipun sudah mengonsumsi susu jenis ini. Meski demikian, susu sapi A2 dianggap tetap lebih baik daripada susu sapi biasa, karena menimbulkan efek yang lebih nyaman pada pencernaan.

Jika Si Kecil sudah cukup besar, Bunda bisa mengajarinya untuk menghindari makanan dan minuman yang memicu alergi. Namun jika Si Kecil masih kecil, Bunda yang harus lebih selektif dalam memilih makanan dan minuman untuk ia konsumsi. Jelilah dalam membaca label kemasan produk makanan atau minuman, sebelum diberikan pada anak.

 

no image

Sibuk mengurus rumah, bekerja, dan mengasuh anak kadang membuat sebagian ibu terjebak dalam rutinitas, sehingga lupa membahagiakan diri sendiri dan menjadi stres. Yuk, Bunda, simak tips menjadi ibu bahagia berikut ini.

Keluarga bahagia bermula dari ibu yang bahagia. Bisa jadi ungkapan ini benar adanya karena stres yang dialami ibu dapat “menular” ke anggota keluarga lainnya. Inilah alasannya mengapa perasaan ibu dapat tercermin pada perilaku anak. Ditambah lagi, orang tua yang mengalami stres akan menjadi tidak sensitif dan tidak responsif terhadap kebutuhan anak.


Menjadi Ibu Bahagia

Bunda pasti pernah mengalami stres dalam mengurus pekerjaan kantor dan rumah. Hal-hal di bawah ini dapat menjadi panduan bagi Bunda untuk tetap merasa bahagia walau sibuk menjalani dua peran:

1. Tidak semua saran orang harus dilakukan

Melengkapi diri dengan berbagai informasi memang penting. Tetapi, terlalu banyak mendengarkan pendapat orang justru bisa membuat Bunda tidak percaya pada pilihan dan keputusan sendiri.

Bunda perlu menyadari bahwa tidak ada satu langkah yang pasti tepat untuk dilakukan pada setiap anak. Meskipun telah menghadiri seminar dan membaca banyak buku parenting, Bunda perlu tetap memercayai insting dan pengalaman Bunda sendiri dalam menentukan hal yang tepat untuk Si Kecil.

2. Dengar, tapi tidak dimasukkan hati

Kapan pun dan di mana pun, Bunda pasti akan mendengar orang lain berkomentar tentang apa yang kurang atau salah mengenai cara Bunda membesarkan anak. Komentar-komentar tersebut bisa menyakitkan dan membuat Bunda meragukan kemampuan diri sendiri dalam mengasuh anak.

Ingat, tidak semua komentar perlu Bunda dengarkan. Pilah kembali mana yang memang bersifat membangun. Jika komentar tersebut hanyalah basa-basi belaka, Bunda dapat mengabaikannya atau sekadar menjawab “ya”, agar komentar cepat selesai. Lebih baik Bunda fokus kepada cara terbaik untuk membesarkan Si Kecil.

4. Ibu sibuk, anak mandiri

Bunda tidak perlu terlalu merasa bersalah jika memang tidak punya banyak waktu bersama Si Kecil, sebanyak yang Bunda harapkan. Anak-anak dari ibu pekerja terbukti mampu menjadi anak yang lebih mandiri, bahagia, sukses dalam pekerjaan, dan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi.

Dengan arahan yang jelas, mereka bisa belajar sendiri mengerjakan beragam pekerjaan rumah yang sederhana. Pastikan Bunda menyediakan sedikit waktu di sela-sela pekerjaan, untuk menyampaikan perhatian dengan menanyakan kabar dan kondisinya.

4. “Bermain” dengan aturan

Fleksibel dengan aturan ternyata dapat membawa kesenangan bagi orang tua dan anak. Bunda dapat memberi perlakuan khusus agar Si Kecil merasa rileks di waktu tertentu. Misalnya, Si Kecil boleh tidur di atas jam 9 malam di akhir pekan, atau mendapat ekstra waktu main game jika membantu menyapu rumah.

5. Tata ulang prioritas

Mengatur bagaimana kita menghabiskan waktu ternyata berperan penting dalam kebahagiaan lho. Bunda dapat mencoba mencari cara untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.

Misalnya, daripada menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyetrika pakaian, bagaimana jika sesekali menyerahkannya pada jasa laundry sehingga Bunda bisa pergi nonton film anak bersama Si Kecil?

6. Luangkan waktu untuk diri sendiri

Bunda tidak perlu takut atau sungkan untuk meminta bantuan pengasuh anak, kerabat, atau teman untuk menjaga Si Kecil saat Bunda perlu pergi keluar. Percaya deh, menghabiskan waktu sejenak untuk diri sendiri dapat membuat Bunda merasa segar, sehat, dan lebih siap untuk kembali merawat Si Kecil.

Agar menjadi ibu bahagia, Bunda perlu ingat untuk tidak selalu menghiraukan apa yang dikatakan orang lain. Selain itu, biasakan untuk mengatakan hal-hal yang positif pada diri sendiri, bukannya justru terus mengkritik dan menyalahkan diri. Ingat, jika Bunda bahagia, Si Kecil juga akan bahagia.

 

no image

 

Bunda pasti kerap mendengar berbagai mitos yang beredar di masyarakat terkait kesehatan pencernaan Si Kecil. Namun bagaimana dengan fakta yang sebenarnya? Dan bagaimana peran nutrisi yang tepat dalam menjaga kesehatan pencernaan Si Kecil. Yuk, simak ulasan berikut ini.

Gangguan fungsi saluran cerna menjadi masalah umum yang kerap dialami oleh anak-anak dalam keseharian mereka. Gangguan fungsi saluran cerna merupakan kondisi yang dapat terjadi pada sistem pecernaan. Gejalanya bisa beragam, seperti nyeri perut, diare, sembelit, kembung, mual dan mulas, yang kerap membuat Si Kecil rewel karena ketidaknyamanan yang dirasakan.


 

Mitos dan Fakta tentang Pencernaan Si Kecil

Berikut ini beberapa mitos dan fakta tentang gangguan fungsi saluran cerna yang umumnya terjadi pada Si Kecil:

Minyak Angin/Minyak Kayu Putih sebagai Pereda Kembung.

Mitos: Mengoleskan minyak angin atau minyak kayu putih dapat meredakan sakit perut pada Si Kecil.

Fakta: Belum ada bukti klinis bahwa mengoleskan minyak angin atau minyak kayu putih dapat meredakan kembung pada Si Kecil. Namun, sensasi hangat yang ditimbulkannya dapat membuat Si Kecil merasa lebih nyaman. Perut kembung dapat disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya adalah mengonsumsi makanan penghasil gas seperti brokoli, kol, bawang dan kedelai.

Beberapa studi membuktikan bahwa konsumsi asupan laktosa yang direndahkan dan kaya serat dapat mengurangi risiko kembung dan gejala gangguan fungsi saluran cerna lainnya. Oleh sebab itu Ibu dapat memberikan nutrisi dengan kandungan serat yang cukup dan laktosa rendah untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kembung pada Si Kecil. Bila keluhan tampak sangat mengganggu Si Kecil dan tidak kunjung teratasi, jangan ragu untuk mengonsultasikannya ke dokter.

Gumoh dapat Memengaruhi Nutrisi Si Kecil

 Mitos: Gumoh dapat mengganggu keseimbangan nutrisi Si Kecil.

Fakta: Mitos ini tidak sepenuhnya salah, karena selama terjadi dalam batas yang wajar, gumoh tidak perlu dikhawatirkan, namun bila terjadi secara berlebihan, maka bisa saja hal ini memengaruhi nutrisi dan tumbuh kembangnya, sehingga patut untuk diwaspadai. Meski kerap mengkhawatirkan, sebenarnya gumoh adalah hal yang wajar terjadi dalam proses perkembangan Si Kecil, hal ini karena ukuran lambungnya masih kecil. Di usia ini juga, cincin otot yang menunjang proses minum atau menelan Si Kecil belum bisa bekerja dengan sempurna.

Tidak perlu khawatir, karena Si Kecil umumnya akan berhenti mengalami gumoh setelah melewati usia 6 bulan. Gumoh dan muntah perlu dibedakan, gumoh terjadi sesaat setelah mendapat asupan, biasanya terjadi dengan mudah, tanpa tekanan dari perut Si Kecil dan bersamaan dengan sendawa dalam jumlah yang sedikit. Sedangkan muntah memiliki aliran yang lebih kuat dari dalam perut hingga keluar dari mulut dalam jumlah lebih banyak. Muntah kerap kali menandakan gangguan pada pencernaan Si Kecil, seperti infeksi saluran cerna. Jadi, bila gumoh dinilai berlebihan (kira-kira hingga lebih dari 2 sendok makan), bobot tubuh berkurang atau tidak kunjung bertambah, terlihat lesu dan gelisah, gumoh terjadi dengan tekanan kuat menyerupai muntah, serta gumoh yang menetap hingga diatas usia 6 bulan, jangan ragu untuk membawanya ke dokter.

 Kopi Dapat Mengatasi Sembelit pada Si Kecil

Mitos: Beberapa mitos yang berkembang di kalangan Ibu menyebut memberikan kopi pada Si Kecil dapat mengatasi sembelit.

Fakta: Sembelit atau konstipasi adalah suatu keluhan sulit BAB yang sering dialami banyak orang termasuk anak-anak, kondisi ini secara utama berkaitan dengan kurangnya asupan serat dan kesehatan saluran cerna. Kopi memang dapat memancing aktivitas saluran cerna, namun di saat yang bersamaan kopi memancing peningkatan produksi urine, yang menyebabkan cairan banyak terbuang dari tubuh, termasuk pada pencernaan, ini dapat membuat kotoran semakin kehilangan kelunakannya, dan menjadi lebih sulit untuk BAB.

Lebih jauhnya, anak-anak bahkan belum bisa mencerna kopi dengan baik, dan kandungan kafein di dalamnya dapat memberikan efek yang mengganggu seperti gelisah, berdebar-debar, sakit kepala, sulit tidur dan gangguan pencernaan.

Asupan makanan dan minuman yang mengandung serat dan prebiotik, dapat membantu mengurangi gejala sembelit dan gangguan saluran cerna lainnya. Serat menjaga dan membantu kinerja saluran cerna dengan baik. Selain itu makanan/minuman yang mengandung prebiotik, termasuk galakto-oligosakarida (GOS) dan frukto-oligosakarida (FOS), juga bermanfaat dalam menjaga kesehatan saluran cerna melalui fungsinya memelihara bakteri baik (probiotik) yang hidup di usus.

Nutrisi Tepat untuk Kesehatan Pencernaan Si Kecil

Terlepas dari cara apa pun yang dilakukan untuk menangani keluhan gangguan fungsi saluran cerna Si Kecil, mencegah selalu lebih baik dari mengobati. Ada rumus sederhana untuk menjaga sistem pencernaan si Kecil tetap sehat, yaitu serat, cairan dan aktivitas fisik.

Untuk menjaga kesehatan pencernaan Si Kecil, Ibu perlu memerhatikan kelengkapan asupan nutrisinya, seperti dengan memberikan asupan cukup serat dari buah, sayur, yoghurt dan biji-bijian yang membantu penyerapan nutrisi, makanan berserat dan juga susu seringkali mengandung prebiotik seperti FOS dan GOS yang mampu memberi nutrisi bagi bakteri baik di usus, vitamin dan mineral (vitamin A, B, C dan D), juga zat besi baik dari daging sayuran hijau maupun susu.

Pastikan Ibu mencukupi asupan cairan, dan memastikan higienitas makanan dan minuman Si Kecil. Selain itu, ajak Si Kecil untuk tetap aktif, guna memaksimalkan kinerja organ tubuhnya, termasuk saluran pencernaan dan daya tahan tubuhnya. Jika keluhan pencernaan Si Kecil semakin mengganggu, jangan ragu untuk membawanya ke dokter.

 

no image

Ada berbagai penyebab anak pendek, mulai dari kekurangan gizi, faktor keturunan, hingga hormon pertumbuhan yang terlalu sedikit. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi tersebut adalah dengan memanfaatkan terapi hormon pertumbuhan.

Hormon pertumbuhan atau human growth hormone (HGH) merupakan hormon yang secara alami dihasilkan oleh kelenjar pituitari di otak. Hormon ini berfungsi untuk memastikan agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara normal.


Jika tubuh anak kekurangan hormon pertumbuhan, maka ia dapat terlihat lebih pendek dibandingkan teman-teman seusianya. Agar anak yang pendek karena kekurangan hormon pertumbuhan dapat tumbuh tinggi secara normal, ia bisa diberikan terapi hormon pertumbuhan.

Mengenali Gangguan Pertumbuhan Tinggi Badan pada Anak

Selain kekurangan hormon pertumbuhan, tubuh pendek pada anak dapat disebabkan oleh beberapa hal, termasuk faktor genetik. Kondisi ini normal terjadi pada anak yang kedua orang tuanya memiliki perawakan tubuh pendek.

Penyakit atau kondisi tertentu, seperti kurang gizi, anemia, asma, gangguan pertumbuhan tulang, dan hipotiroidisme pada anak, juga ikut berperan dalam menyebabkan tinggi badan anak kurang.

Badan pendek yang disebabkan oleh defisiensi hormon pertumbuhan biasanya sudah mulai dapat dikenali sejak anak berusia 2-3 tahun. Tanda-tandanya berupa:

  • Wajah terlihat lebih muda dari anak-anak seusianya.
  • Tinggi badan lebih pendek dari anak seusianya.
  • Tubuh anak tampak gemuk.
  • Pubertas yang tertunda, bahkan anak mungkin tidak mengalami pubertas.

Untuk memastikan ada tidaknya gangguan hormon pertumbuhan pada anak-anak, diperlukan pemeriksaan secara menyeluruh, seperti pemeriksaan fisik, penilaian status gizi untuk mengukur berat dan tinggi badan anak, tes darah, serta pemeriksaan Rontgen.

Rangkaian pemeriksaan tersebut berguna untuk menentukan penyebab anak berbadan pendek, mengukur jumlah hormon pertumbuhan pada tubuh anak, mengetahui tingkat pertumbuhan tulang, dan mengetahui bagaimana tubuh anak memproduksi serta menggunakan hormon pertumbuhan.

Peran Terapi Hormon Pertumbuhan pada Anak Bertubuh Pendek

Kondisi anak yang bertubuh pendek karena kekurangan hormon pertumbuhan dapat ditangani oleh dokter spesialis anak. Jika dibutuhkan, dokter akan memberikan terapi hormon pertumbuhan untuk menambah tinggi badan anak.

Terapi hormon pertumbuhan merupakan terapi jangka panjang yang dapat berlangsung beberapa tahun. Terapi ini umumnya diberikan melalui suntikan.

Dokter akan menentukan dosis dan berapa lama terapi hormon pertumbuhan diberikan, serta memantau respons anak terhadap terapi dengan pemantauan berkala. Saat anak menjalani terapi hormon pertumbuhan, dokter dapat mengubah dosis terapi sesuai kebutuhan anak.

Terapi hormon pertumbuhan ini dapat menambah tinggi badan anak akibat kekurangan hormon pertumbuhan hingga kurang lebih 10 cm pada tahun pertama dan 7,5 cm pada tahun selanjutnya.

Selain untuk kekurangan hormon pertumbuhan, terapi ini juga dapat membantu anak yang memiliki tubuh pendek karena kondisi lain, seperti terlahir prematur, penyakit ginjal kronis, sindrom Turner, dan sindrom Prader-Willi.

Perlu diketahui, pemberian hormon pertumbuhan pada anak memiliki beberapa efek samping, seperti:

  • Sakit kepala.
  • Nyeri otot dan sendi.
  • Nyeri dan pembengkakan di lokasi penyuntikan.

Selain memiliki efek samping, pemberian hormon pertumbuhan pada anak juga bisa menimbulkan komplikasi berupa gangguan bentuk tulang belakang (skoliosis), masalah pada tulang panggul, seperti dislokasi atau patah tulang, dan diabetes. Namun, hal ini jarang terjadi.

Oleh karena itu, pengaturan dosis dan evaluasi kesehatan secara berkala harus dilakukan untuk memantau kondisi anak dan menilai apakah anak mengalami efek samping selama menjalani terapi hormon pertumbuhan.

Terapi hormon pertumbuhan bisa menjadi salah satu cara mengoptimalkan tinggi badan anak. Meski begitu, terapi ini memiliki risiko. Orang tua dapat mendiskusikan hal ini secara mendalam dengan dokter anak untuk memahami lebih lanjut manfaat dan risiko terapi ini.

 

no image

Umumnya anak-anak sudah bisa berbicara dengan jelas saat berusia 7 tahun. Apabila anak masih cadel pada usia tersebut, ada baiknya orang tua mencoba membantu mengatasinya. Pasalnya, jika tidak ditangani dengan tepat, cadel pada anak bisa berlanjut hingga dewasa.

Biasanya anak-anak yang cadel tidak bisa mengucapkan kata-kata yang memakai beberapa jenis huruf konsonan, seperti huruf D, L, N, R, S, T, atau Z. Jika salah satu huruf tersebut terdapat pada namanya, hal ini mungkin akan membuat Si kecil sulit mengatakannya. Bukan tidak mungkin kondisi tersebut dapat memengaruhi kepercayaan dirinya dan berdampak pada kehidupan sosialnya secara menyeluruh.

Berbagai Penyebab Cadel pada Anak

Ada beberapa hal yang bisa memicu anak-anak mengalami cadel, seperti:

Penggunaan dot atau empeng

Kebiasaan mengisap dot bisa membuat lidahnya terbiasa untuk terdorong ke depan dan berada di antara giginya. Hal ini bisa membuatnya tidak bisa mengucapkan huruf S dan Z dengan jelas.

Tongue-tie

Kondisi yang kerap disebut ankyloglossia ini terjadi ketika jaringan ikat yang menempel di bawah lidah, hingga bagian bawah rongga mulut ukurannya terlalu pendek.

Kondisi ini membuat pergerakan lidah anak menjadi terbatas, sehingga mengganggunya saat berbicara, makan, dan menelan. Biasanya, gangguan ini terjadi pada bayi baru lahir.

Lidah berukuran besar atau terlalu menjorok ke luar gigi 

Kondisi ini dikenal juga dengan macroglossia. Lidah yang berukuran besar bisa menyebabkan anak mengalami cadel. Kondisi ini dikenal dengan sebutan cadel antargigi (interdental) dan kerap terjadi pada penderita sindrom Down.

Cara Mengatasi Cadel pada Anak

Orang tua dapat menerapkan beberapa cara berikut untuk mengatasi cadel pada anak:

  • Biasakan anak minum dengan sedotan. Gerakan mengisap dengan sedotan ini bisa melatih kekuatan motorik mulutnya. Hal ini penting untuk mengembangkan kemampuannya dalam berbicara.
  • Latih posisi lidah dan mulut anak saat mengucapkan huruf-huruf yang sulit ia ucapkan dengan benar. Agar Si Kecil bisa mengingatnya, ajak ia berlatih di depan cermin.
  • Ajak anak melakukan permainan yang bisa melatih kekuatan motorik mulutnya, seperti meniup trompet mainan atau meniup gelembung air sabun.
  • Minta anak mencoba untuk mengucapkan keinginannya dengan jelas, sebelum menurutinya.
  • Ajari anak sesering mungkin untuk mengucapkan kata-kata dari huruf yang tidak bisa diucapkan secara jelas.

Sebagai langkah pencegahan, disarankan untuk membatasi atau menghindari pemakaian empeng. Jika memang diperlukan, Bunda bisa memilih empeng dengan ukuran yang sesuai untuk usia atau ukuran mulut Si Kecil.

Cukup gunakan empeng hanya saat ia akan tidur, kemudian lepaskan empeng setelah Si Kecil terlelap. Hindari membiarkannya menggunakan dot sepanjang waktu. Tapi, lebih disarankan untuk menjauhkannya dari empeng saat anak sudah menginjak usia 18 bulan.

Jika Bunda dan Ayah khawatir dengan cadel yang dialami Si Kecil, disarankan untuk membawanya ke tempat terapi wicara. Jika memang perlu, tanyakan pada dokter tentang penanganan medis yang bisa dilakukan untuk mengatasinya, misalnya operasi frenuloplasty jika Si Kecil mengalami tongue-tie.